INSIDE MAN: Old-Fashioned Bank Office

Storyline

Sebuah perampokan bank yang sangat terencana terjadi pada siang hari saat aktivitas di New York City tengah menghangat. Dalton Russell (Clive Owen) dan timnya melakukan penyabotan terhadap kamera dan sensor keamanan lainnya. Para nasabah dan pihak keamanan dilumpuhkan dengan cepat. Sebuah tempat penyimpanan uang di bawah tanah menjadi sasaran empuk para begundal bersenjata dengan pakaian khusus ini.

Di bawah komando Detektif Keith Frazier (Denzel Washington) dan Bill Mitchell (Chiwetel Ejiofor), kepolisian New York berusaha bernegosiasi dengan para perampok. Namun, investigasi mereka terpaksa tersendat akibat munculnya Arthur Case (Christopher Plummer), salah satu chairman dan juga pendiri bank tersebut. Dibantu oleh broker Madeleine White (Jodie Foster), pihak Case ingin menawarkan negosiasi khusus agar satu-satunya safe deposit box miliknya tetap aman. Sebuah rahasia penting tersimpan di dalam kotak yang mana akan membuahkan aib luar biasa jika dokumen di dalamnya tersebar ke publik.

Negosiasi dan penyelidikan pihak kepolisian terusik akibat kepentingan-kepentingan di luar penangkapan para penjahat dan pembebasan sandera tersebut. Apalagi muncul kejadian demi kejadian yang menguji akal mereka. Perampokan yang dipimpin oleh Dalton Russell ini memang menyisakan banyak teka-teki. Tidak hanya siapa yang ada di balik semua kejahatan ini, tetapi juga bagaimana teknik brilian para pelakunya agar mereka dapat lolos dari kepungan pihak berwajib. Bagi pihak kepolisian, kasus perampokan ini adalah sebuah tantangan serius. Segala celah dan kemungkinan harus benar-benar diamati. No detail is unimportant. No clue is a throwaway.


***

Film Inside Man disutradarai oleh Spike Lee (Malcolm X), sineas yang selalu memfokuskan pengambilan gambar film-filmnya di kota New York. Dapat dimengerti, karena ia dibesarkan di Brooklyn, kendati lahir di Atlanta, Georgia. Apalagi, kini ia membeli rumah di dekat tempat dirinya menghabiskan masa kanak-kanaknya dahulu di wilayah Fort Greene, Brooklyn, New York. Oleh sebab itu, ia begitu detail dan paham bagaimana membangun setiap set di New York untuk karya-karyanya dengan tingkat ketelitian yang tinggi, seperti bangunan aslinya. Syuting Inside Man sendiri memakan waktu sekitar dua bulan di kota New York, selama Juni hingga Agustus 2005.

Untuk mendapatkan pendekatan arsitektural dan tata artistik yang sempurna, Lee dibantu oleh production designer veteran Wynn Thomas yang sudah berkecimpung lebih dari 25 tahun dalam pekerjaan ini. Thomas sendiri adalah jebolan Boston University School of Fine Arts yang juga mendalami sejarah arsitektur dan sempat bekerja di panggung teater, sebelum masuk ke dunia film. Kedekatan Lee dan Thomas memang dimulai dua dekade lalu ketika mereka terlibat pembuatan set film She’s Gotta Have It, di mana keduanya dikenal sebagai pribadi-pribadi yang sangat perfeksionis di bidangnya.

Pemilihan bank yang dijadikan lokasi syuting Inside Man hampir sepanjang film, memakan waktu cukup lama. Untuk hunting lokasi interior dan eksteriornya sengaja dibagi dua tim. “Pasukan” pertama berburu eksterior bank dan kantor pemerintahan yang memiliki arsitektur tahun 20-an selama 2 minggu selama pra-produksi di bawah komando sutradara Lee. Yang lebih sulit adalah mendapatkan kesan interior bank untuk mendapatkan kesesuaian detail dengan naskah yang dibuat oleh Russell Gewirtz. Penulis naskah ini menginginkan gambaran bangunan perkantoran kuno seperti dalam film Serpico atau Dog Day Afternoon yang menjadi sumber inspirasinya. Khusus untuk pencarian bagian dalam bank tersebut, tim kedua di bawah pimpinan Thomas mencari arsitektur yang sesuai selama dua minggu ke sebanyak 40 bangunan bank dan kantor pemerintahan. Tim kecil milik Thomas yang lain melakukan riset untuk pembangunan apartemen di mana sosok Detektif Keith Frazier tinggal, di luar lokasi untuk kantor Kepolisian New York (NYPD), Mobile Command Center (MCC), dan ruang interogasi.

Dalam film Inside Man, dikisahkan bank yang menjadi sasaran perampokan dan penyanderaan merupakan cabang ke-32 dari Bank Manhattan Trust yang beralamat di 20 Exchange Place di bilangan Wall Street. Fisik bangunannya sendiri memang terletak di area Wall Street, hanya beberapa blok dari New York Stock Exchange dan South Street Seaport. Setelah dilakukan riset dan diskusi panjang, maka diputuskan dipakai bangunan bekas bank tersebut yang kini menjadi toko rokok dan cerutu. Untuk mendandani façade bangunan komersial yang tidak menyerupai kantor atau bank itu, tim tata artistik terpaksa harus meniru beberapa bank konvensional di wilayah Manhattan yang lain. Pekerjaan ini tidak memakan waktu terlalu lama, karena bangunan yang dipakai sebagai lokasi syuting itu sudah memenuhi standar yang diinginkan, yakni berarsitektur 1920-an dan dulunya pun merupakan bank.

Tim produksi Inside Man sangat beruntung, karena tidak harus membuat set yang terlalu banyak di studio untuk pembuatan interior bank yang diinginkan. Di tempat yang yang sama ini pula, reka interior tersebut dibangun dengan lama pengerjaan mencapai 6 minggu. Thomas merenovasi total lantai dasarnya agar memberi kesan bank-bank kuno yang menjadi ciri khas bangunan bank dan perkantoran mapan di New York pada era sebelum Perang Dunia II. Di lantai dasar inilah perombakan dan pembangunan set memakan waktu paling lama, karena di sinilah banyak adegan utama diambil. Dengan bujet produksi mencapai $45 juta (termasuk honor para pemainnya), nyaris $2 juta tersedot untuk mendandani wajah luar dan dalam bangunan bank tersebut.

Lokasi di dalam bank yang juga penting adalah bank vault tempat penyimpanan safe deposit box yang terletak di ruang bawah tanah. Seperti kebanyakan bank-bank Amerika tahun 1920-an, vault tersebut didesain sedemikian tersembunyi dengan tingkat keamanan yang begitu berlapis. Kondisi ini mengingatkan kita pada film Ocean’s Eleven, di mana pasukan perampok berhasil membobol vault super-ketat yang terletak di bawah tanah. Seperti kebanyakan heist movies dalam film-film Hollywood, film Inside Man juga menampilkan betapa kokohnya pertahanan keamanan dalam vault tersebut.

Untuk mendesainnya, dibagi dua lokasi pengerjaan. Set pertama dibangun di salah satu ruangan bawah tanah yang dipakai selama syuting. Bangunan bekas bank tersebut masih menyimpan ruangan mirip vault yang letaknya sangat strategis dengan pilar dan dinding yang tebal. Namun untuk menyorot ruangan tersebut secara detail, Thomas juga membangun set kedua di studio milik Universal. Pengerjaannya memakan waktu hampir dua pekan dengan model bank-bank Eropa yang dibuat sangat klasik dan memiliki kesan lebih dingin. Kombinasi desain di kedua set tersebut digabung sedemikian rupa sehingga terkesan berada di lokasi yang sama.

Untuk syuting office space yang ditempati Arthur Case, lokasi berpindah ke sebuah bangunan yang lebih kuno yang sebenarnya kini sudah berubah fungsi menjadi rumah tinggal. Bangunan ini didapatkan Lee dalam awal-awal perburuannya. Thomas langsung menyetujui ketika Lee mengkonsultasikan apakah lokasi yang ia maksud dapat dijadikan set kantor dalam film Inside Man. Ternyata benar juga, bangunan rumah tersebut dahulunya merupakan sebuah kantor lama yang di bagian atasnya dijadikan tempat tinggal. Ini semacam ruko di negara kita. Kendati sudah tidak berfungsi sebagai office space lebih dari setengah abad, divisi tata artistik mampu menangkap esensi kantor dan menyulapnya dalam waktu singkat.

Bagi Christopher Plummer, bangunan yang dikreasi menjadi kantor dadakan ini langsung membuatnya betah. Plummer yang sudah berusia lanjut mengerti betul bahwa ketika ia masih muda, kantor-kantor seperti inilah yang ia dambakan sebagai ruang kerjanya. “Ini adalah ruangan kantor di mana J.P. Morgan atau Andrew Carnegie dulu bekerja,” ujar Plummer menyebut dua nama konglomerat kelas kakap Amerika masa lalu. “It’s just something extraordinary.” Sedangkan bagi sutradara Lee yang merupakan lulusan New York University’s Tisch School of the Arts di Manhattan, kantor untuk karakter Arthur Case ini sukses dikreasi ulang Thomas menjadi sebuah ruangan yang mampu merepresentasikan kekuatan bisnis dan kharisma Case sesungguhnya. Padahal kita tahu bahwa tokoh ini ternyata menerima uang haram dari Nazi saat Perang Dunia II di dalam film tersebut.

Advertisements

2 thoughts on “INSIDE MAN: Old-Fashioned Bank Office”

  1. Hi, mas Anton! Akhirnya saya menyambangi situsmu juga! Hahaha!! Setelah dua surat saya ke redaksi M2 dimuat, tampaknya tidak adil jika ‘putus hubungan’ karena kesibukan kerja (hampir) memutus waktu pribadi saya untuk membaca kendati rutinitas membeli majalah ini tak pernah absen sebulan pun..
    Saya pikir, memang sebaiknya salah satu atau dua kru redaksi memiliki web pribadi seperti ini (setelah redaksi memutuskan untuk tidak meluncurkan web majalah untuk komunitas pembacanya). Bagi yang memiliki akses internet di rumah, akan lebih mudah bagi kami dan Anton (sebagai rep. majalah) untuk berinteraksi lebih intens dan sering.
    Tentang Inside Man, sebenarnya saat saya menonton film ini, ada perasaan aneh menghampiri karena Spike Lee adalah sutradara yang kental dengan nuansa etnis Afrika-Amerika-nya. Jadi, saat ia mengangkat tema perampokan dan Yahudi serta Nazi, saya malah kebingungan. Tapi, kecerdikan plot dan alurnya sangat membantu pikiran ini agar keluar dari kisruhnya meributkan hal tadi.
    Lalu, sekuel berikutnya mempunyai judul apa? Outside Man? :D Agak latah juga ya? Saya pikir, keseriusan film ini (tepat) diakhiri saat film pertama selesai. IMHO, but big bucks are difficult to ignore, huh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s