HIPPY HIPPY SHAKE: Goyang, bukan berarti teler!

Apakah Anda baru terkagum-kagum dengan gaya presentasi film Cloverfield yang baru diputar di Tanah Air?Atau Anda justru mual dan puyeng begitu keluar dari bioskop, seperti halnya banyak keluhan pening yang sama ketika film ini diputar di Amerika Utara, sekitar pertengahan Januari silam. Apa yang disuguhkan sutradara Matt Reeves memang tidak lazim disampaikan lewat sebuah film. Mengisahkan tentang beberapa seri adegan yang terekam lewat kamera digital biasa terhadap peristiwa menakjubkan selama pesta berlangsung. Akibatnya, dominasi gambar yang tertuang di layar adalah sebuah rekaman video hasil genggaman tangan yang terus bergoyang. Bisa dibayangkan, bagaimana asyik sekaligus pusingnya penonton dibuatnya. Masih untung jika penonton tidak mual.

Apa yang dilakukan Cloverfield dan shaky camera technic-nya memang bukan menjadi barang baru di Hollywood. Cloverfield sendiri diproduseri oleh J.J. Abrams yang memakai teknik hand-held camera sepanjang tiga musim serial yang membuatnya beken, Lost. Teknik ini seolah mengharamkan metoda dasar sinematografi umum, seperti pemakaian crane, dolly, image stabilization hingga yang lebih umum dipakai, teknologi steadicam. Justru efek goncangan tersebut yang dicari oleh film-film seperti ini sehingga memberikan kesan dokumentasi (non-profesional sehingga benar-benar seperti diambil oleh seorang amatiran) yang kuat. Efek yang diderita sebagian penonton bagaikan terkena mabuk kapal alias nausea. Memang bukan perkara berat, tetapi sebuah bioskop di Amerika sampai perlu mencantumkan peringatan penyebab pusing tadi di depan loket film Cloverfield.

Kendati banyak ahli kesehatan tidak menganjurkan penonton menyaksikan film seperti ini, tetapi gaya shaky camera tersebut terus dibuat. Bahkan, dimulai sejak dulu sebagai bagian dari sebuah teknik sinematografi, layaknya tilt technic yang lebih simpel. Anda mungkin ingat film dengan gaya rekaman video amatir The Blair Witch Project yang sempat menghebohkan tahun 1999, meski modalnya konon hanya $22.000 saja. Atau bagaimana Steven Spielberg memasukkan unsur yang sama dalam film perang Saving Private Ryan. Jika Anda perhatikan karya-karya Paul Greengrass, lewat dua seri petualangan Jason Bourne dan United 93, maka cara seperti ini juga terus-menerus dipakai. Bagi penggemar serial TV NYPD Blue, teknik yang lebih halus dibandingkan shaky camera ekstrim a la Cloverfield, juga digunakan selama bermusim-musim.

Saya lebih cenderung suka dengan penataan kamera berteknik hand-held, bukan yang terlalu shaky sehingga hanya murni mood kita yang kemudian dapat mengatakan karya tersebut bagus atau buruk. Gaya hand-held camera seperti yang ditunjukkan oleh Greengrass atau sutradara asal Denmark, Lars von Trier, menurut saya lebih enak dinikmati sebagai style sinematografi “amatiran” dalam film profesional. Sineas Noah Baumbach lewat film kecil yang lucu, The Squid and the Whale, juga cukup pas dalam memberikan teknis hand-held-nya. Dari Asia, beberapa film garapan Wong Kar-wai juga dibuat dengan teknik serupa. Itulah sebabnya, saya sangat penasaran untuk menyaksikan karya terbarunya, My Blueberry Nights.

Apa pelajaran yang bisa kita dapatkan dari teknik hand-held hingga yang ekstrim seperti shaky camera ini? Jika Anda di rumah memiliki camcorder dan memiliki niat membuat film kecil-kecilan, baik yang sifatnya pribadi atau hendak diikutkan ke dalam ajang film independen lokal, maka sudah terjadi koneksi yang pas di sini. Untuk menjadi seorang filmmaker amatir, tidak perlu takut lagi menjajalnya lewat teknik sinematografi apapun, termasuk hand-held camera technic ini. Dalam beberapa kejadian, pemakaian teknik tersebut ternyata pas juga. Memang tidak selalu, tetapi ada beberapa momen yang akan lebih “klik” jika kita menggunakan teknik kamera yang digenggam tangan tanpa memakai alat bantu tripod atau bahkan dolly sekalipun.

Kini, banyak camcorder dibuat sedemikian sempurna sehingga menciptakan hasil gambar yang mirip dengan sebuah video profesional saja. Tentu hal tersebut sangat berguna, terutama bagi mereka yang bertujuan mencari kestabilan gambar pada momen-momen yang begitu penting. Tetapi bagi para adventurir di bidang perfilman amatir, sesuatu yang memudahkan justru memberikan sebuah kepraktisan yang kadang membuat kita menjadi malas bereksperimen dan menggali kreativitas. Banyak camcorder berteknologi mutakhir masa kini yang bisa merekayasa sedemikian rupa agar fitur-fitur kepraktisan tersebut tidak difungsikan secara otomatis (atau setidaknya fitur otomatisnya direduksi). Untungnya, banyak camcorder tersebut juga mampu menampung data video dan gambar langsung ke dalam DVD-RW, hard-disk atau bahkan slot memori terpisah. Dengan demikian, kita bisa bereksperimen lebih bebas untuk langsung membandingkan (tanpa harus mentransfer dulu) bagaimana hasil teknik hand-held camera Anda agar tidak jauh ketinggalan dengan kualitas yang dihadirkan Greengrass lewat The Bourne Supremacy dan The Bourne Ultimatum. So, let’s roll the camera on…

[Artikel ini dimuat di majalah Movie Monthly edisi 70]

Advertisements

9 thoughts on “HIPPY HIPPY SHAKE: Goyang, bukan berarti teler!”

  1. Teknik hand held camera sering banget di pakai ma Rudi Sujarwo.

    Di edisi Prince Kaspian kemaren, mas Anton sedikit menyinggung akan adanya perubahan di M2, kok di edisi ini belum keliatan ya?
    Menurut saya, kok sudah saatnya M2 sedikit memberi perubahan, terutama dari segi tampilan yang memang lebih classy dibanding majalah sebelah, cuman efeknya sedikit membosankan. Ditunggu lho perubahannya.
    O ya di edisi yang baru ini ada bloopersnya.
    Di review DVD Diving Bell disebutkan film tersebut meraih Golden Globe dua minggu setelah pencapaian di Cannes.
    Setahu saya Diving Bell dapet di Cannes 2007 dan Golden Globe 2008, jadi ada rentang sekitar 1 tahun.
    Trus Review DVD dan review film kalo bisa sama donk ratingnya. Jangan sampe seperti review The Water Horse.
    Mungkin yang kasih review beda orang, tapi kan tetep satu majalah.

    Makasih

  2. ok makasih gilasinema….sy ngga tau coz jarang bgt nonton film indo….

    stuju juga kalo edisi terbaru (71) yang katanya akan ada perubahan..tapi tidak signifikan…hanya kembalinya Edu Box. Itu pun bobot bahasannya masih di bawah Edu Box lalu….(beda penulis).

  3. @Billy

    Emang ada ya Sanders or Sandra Dewi Lovers. Hehehe… Saya sih demen orang ini, tapi gak sampe segitunya, maksudnya se-lover itu. Bisa dicemberutin bini. Hehehe… But, thanks buat infonya.

  4. Cover M2 terbaru keren banget. Kalo bener cuman ada satu – satunya di dunia, TOP banget tuh. Congrats buat semua. Jadi ikut bangga.
    Soal perekat edisi kemaren, aku kirain cuman punyaku doang, ternyata….
    Yang penting besok – besok enggak gitu lagi

  5. Teman saya yang lulusan sinema dari luar negeri pernah memberitahu bahwa salah satu kru film di Hollywood bertugas hanya untuk mengukur fokus lensa kamera. Saya lupa namanya, namun saat Anda menyaksikan karya Greengrass macam Bourne dan United 93, fungsi kru ahli seperti ini lebih terlihat.

    Dia mengatur bagaimana jarak obyek terdekat dan terjauh dari penonton dapat fokus atau sebaliknya. Bayangkan, dia harus siaga sepanjang kamera menyala karena fokus biasanya akan menyesuaikan diri saat objek yang tengah diambil gambarnya (padahal keinginan sutradara seringkali tidak seperti itu).

    Nah, saya tidak dapat membayangkan tugas kru itu pada film seperti ini. Temponya tinggi dan pergerakan kameranya sangat cepat (sampai rekan kantor saya muntah di toilet setelah menyaksikan film ini… Wakakakaka!!! Maaf ya, mbak An!).. Pasti tangannya sampai pegal-pegal dan kram yah? Tapi, di sini letak unik dan penuh tantangannya ya? Justru ketegangan bisa dibangun hanya melalui landscape kamera yang terbatas, sudut sempit dan penuh getaran macam Blair Witch dan Cloverfield..

    Kapan di Indonesia bisa buat yang demikian tegang tapi tak dibuat-buat seperti Kuntilanak 2 (yang entah bisa dikategorikan film atau bukan karena setiap scene yang ada tak ubahnya video klip…)?

  6. Saya baru tiga minggu lalu nonton film ini dari VCD, gila memang idenya itu, saya kagum dibuatnya. Malah sempat berfikir jangan-jangan ini betul hendikem yang dipakai bikin film, ternyata setelah ending di credit title ada banyak kru termasuk sutradara dan produser.

    Ceritanya juga fiksi banget, dramanya lumayan lah, tapi yang bikin jengkel semua pemain akhirnya mati, begh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s