NO RESERVATIONS: Desain Mahal Dapur Mewah

Storyline

Kate (Catherine Zeta-Jones) adalah seorang master chef dari sebuah restoran high-class di Manhattan, New York, bernama 22 Bleecker Street Restaurant. Sifatnya yang sangat perfeksionis membuat masakan-masakannya selalu disukai para pengunjung dan dipuji kritisi makanan. Namun sayangnya, tabiatnya yang sangat keras dan dingin di dapur restoran tersebut telah membuat anak buahnya jengah. Kebanyakan dari mereka sebal dengan gaya bossy dan serba-kaku darinya. Hal itu menjadi semacam siksaan bagi chef lain dan para pembantunya.

Perilaku dinginnya di dapur 22 Bleecker St. itu merupakan pelarian dari kehidupan pribadinya yang penuh kesendirian. Hidupnya dihabiskan dengan rutinitas yang sangat membosankan. Sampai akhirnya, restoran mahal itu kedatangan sous-chef baru yang bergaya slengean, Nick (Aaron Eckhart). Berbeda 180 derajat dari Kate, Nick adalah pribadi yang bebas, penuh semangat, dan lepas dari segala macam aturan baku yang mengesalkan. Prinsipnya adalah menyelaraskan antara spirit hidup dengan sajian makanan yang mengairahkan di atas meja.

Friksi jelas terjadi. Perbedaan pandangan ini menciptakan kekisruhan yang sialnya justru membuat pemilik restoran 22 Bleecker St., Paula (Patricia Clarkson), memberikan apresiasi hebat bagi Nick dan kreasi masakannya. Belum lagi reda persaingannya dengan Nick, Kate malah kedatangan keponakannya yang berusia 9 tahun, Zoe (Abigail Breslin), yang ditinggal ibunya. Tekanan ini justru memberikan pendangan baru pada diri Kate bahwa hidup ini ternyata tidak sedangkal dan sesempit yang ia rasakan selama ini. Di luar dapurnya, ada resep cinta dan kasih sayang dalam hidup yang dapat diramu sehingga menciptakan “masakan” bercita rasa tinggi bernama kebahagian lewat diri Nick dan Zoe. Sometimes, life isn’t made to order…

***

No Reservations merupakan sebuah love story yang berbalut kisah komedi ringan dengan setting sebuah restoran mahal di bilangan Manhattan, New York. Hampir seluruh durasi film dihabiskan untuk menyorot restoran 22 Bleecker St. yang menjadi muara cerita film arahan Scott Hicks yang pernah menangani Shine, film peraih 7 nominasi Oscar pada tahun 1996. Meski Hicks menekankan unsur emosi sebagai penggerak utama kisah romansanya ini, tetapi karakter Kate dan Nick sebagai chef menjadi kekuatan lain yang tidak dapat dilepaskan sebagai pondasi film No Reservations. Akibatnya, memang restoran high-class itulah yang selalu dijadikan poros cerita di film ini.

Sedikit mirip dengan apa yang ditampilkan dalam film animasi komputer Ratatouille, No Reservations memijakkan kaki utamanya sejak awal hingga akhir film dalam satu set yang sama, yakni restoran dan dapur tempat Kate dan Nick bekerja. Selain fakta menarik bagaimana Catherine Zeta-Jones yang di dalam film ini digambarkan sebagai master chef, namun sesungguhnya tidak pandai memasak, bahkan untuk menggoreng telur sekalipun, fakta bahwa No Reservations adalah remake dari film Eropa berjudul Bella Martha (Mostly Martha), juga patut dicermati. Produser Kerry Heysen, penulis naskah Sandra Nettelbeck dan Carol Fuchs, serta sutradara Hicks, sepakat untuk membawa setting film ini menuju New York. Alasannya sangat jelas, New York adalah kota yang kaya akan tempat makan dan restoran. “You can’t walk down a street in New York without passing little cafés of every description and taking in all that aroma and activity,” jelas Heysen.

Banyaknya restoran yang terdapat di kota sebesar New York, justru membuat Hicks dan tim penata artistiknya yang dikomandoi oleh production designer Barbara Ling lumayan kerepotan. Kabarnya, kedua orang tersebut harus keluar-masuk sekitar 60 restoran untuk mencari “wajah” yang pas agar sesuai dengan restoran 22 Bleecker St. seperti dalam cerita. Riset yang dilakukan tersebut bukan untuk mencari lokasi syuting film No Reservations, tetapi mengadaptasinya untuk kemudian dibuat tiruannya di studio. Setelah merekam sekitar 8 dapur restoran yang sesuai, dibuatlah sebuah set dapur fiktif yang luas di sebuah soundstage studio Silvercup East di Queens, New York.

Bagi kita di Indonesia, rasanya tidak masuk akal jika ada puluhan dapur dari restoran beken di New York, tetapi lokasi syuting film justru dibangun di sebuah set anyar di lokasi lain. Ling beralasan bahwa dengan membangun dapur fiktif seperti itu, desain dapur yang diinginkan bisa bebas dikreasi sesuai dengan cerita. Kendati fiktif, deasin dapur yang dipakai menggunakan bahan-bahan asli. Bahan stainless steel-nya asli, tidak seperti beberapa film Hollywood lain yang banyak memakai material plastik dan kayu saja. Jika kita secara detail melihatnya lewat DVD, memang tampak jelas bahwa mesin cappuccino, tempat cuci hingga meja metalnya benar-benar nyata. Satu-satunya benda palsu di set dapur itu adalah dua buah lemari es besar yang sebenarnya hanya kotak yang dibuat mirip refrigerator dengan pompa udara di dalamnya.

Pada umumnya, Hollywood selalu mengganti set untuk film dengan bebrabagi benda artifisial, karena kamera tidak sanggup merekam detail secara sangat presisi. Namun, film ini memang menitik-beratkan segala cerita dari dapur tersebut sehingga sangat masuk akal jika segala detail yang ada di sebuah restoran kelas atas dipindahkan secara utuh ke dalam set ini. Konon saking presisinya, Aaron Eckhart, pemeran sous-chef sampai sering lupa bahwa syuting dilakukan di sebuah soundstage, bukan dapur restoran sungguhan. Dalam set dapur tersebut juga sengaja dibuat beberapa lekuk lokasi untuk menempatkan 9 titik kamera demi mendapatkan angle yang baik. Dengan segala kedetailan ini tidak heran jika pembuatan set dapur dengan segala perlengkapan aslinya ini menjadi cost termahal produksi film No Reservations, di luar honor pemain dan kru.

New York adalah kota megapolitan yang kaya akan bangunan bersejarah dengan arsitektur beragam. Ribuan film drama atau komedi yang digarap oleh studio besar Hollywood mengambil tempat di kota yang memiliki nickname Big Apple ini. Selain pembuatan arsitektur dapur kelas wahid yang menjadi core cerita film No Reservations, pemilihan fisik restorannya sendiri menjadi salah satu poin yang tidak boleh diremehkan. Hicks sengaja mencari fisik bangunan dengan façade yang mewah namun unik. Selama beberapa pekan, Hicks dan Ling mencari lokasi-lokasi yang tepat. Sampai akhirnya ditemukan sebuah lokasi yang pas dengan pertimbangan utama nilai estetika di depan kamera.

Lokasi itu terdapat di West Village, di sebuah bangunan sudut yang memang memiliki banyak kemungkinan angle seperti ketika kita tonton di bioskop ataupun DVD. Memiliki jendela-jendela yang besar, Hicks memang mencari sebuah bangunan yang menonjol ketika orang melewatinya. Jika Anda sudah menyaksikan film ini, maka kita dapat melihat penempatan lampu dan penerangan lain yang ditata sedemikian rupa agar restoran ini menjadi sebuah magnet bagi mata penonton untuk langsung tertuju kepadanya. Beberapa polesan juga tetap harus dilakukan untuk memberikan sentuhan dramatis. Kabarnya, biaya poles untuk façade restoran ini nyaris mencapai angka $200.000.

Untuk desain interiornya, campur tangan production designer Barbara Ling menjadi begitu penting. Wanita yang pernah membuat set arsitektural untuk film Batman & Robin dan Batman Forever ini membuat sebuah desain yang minimalis charcoal artwork dengan dinding yang beratmosfer kelam. Apabila Anda sudah pernah menyaksikan adegan di restoran dalam film Donnie Brasco, Hitch atau Mr. & Mrs. Smith, maka secara kasat mata, mood interior ruang restoran yang sama bisa terasa di film No Reservations ini. Namun sangat jelas, style interior yang dipakai dalam film ini lebih mengikuti arus restoran Prancis bergaya minimalis ketimbang restoran yang disebutkan dalam ketiga film di atas.

Lokasi di West Village itu sebenarnya merupakan retail store yang sebelumnya adalah restoran China. Akibatnya memang interior dan façade-nya harus dirombak total demi menciptakan kesan restoran mewah 22 Bleecker Street bergaya cita rasa Prancis. Penomoran dan nama 22 Bleecker St. sendiri memang fiktif. Penomoran rumah dan bangunan di daerah itu semua di atas 300. Satu-satunya yang mendekati hanya sebuah gereja lama, yakni nomor 24. Akibatnya, dewan kota setempat mengharuskan pemasangan nomor ini dilakukan sementara saja, saat syuting dilakukan. Ketika jeda pengambilan gambar, nama restoran dan penomorannya harus segera diturunkan agar tidak membingungkan banyak orang, terutama petugas pos dan kurir pesan lain.

[Artikel ini dimuat di majalah Indonesia Design edisi 25]

Advertisements

One thought on “NO RESERVATIONS: Desain Mahal Dapur Mewah”

  1. Restorannya Chef Gusteau di film Ratatouille jg nggak kalah megah pisan lho…
    cuma terkesan nggak banget lantaran ada si Remi disana, ya kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s